The First Story

Disinilah Awal Perjuangan Kita

(Nila Agustina, S.Pd  SM-3T UNNES 2012)

(17 Oktober 2012)

EDIT2A

            Pagi yang indah ini sepertinya masih bersahabat kawan, hujan pun masih bersemayam di peradapan. Hingga menciptakan suasana indah untuk melantunkan sepercik cerita ini.  Ok teman,, saya akan bercerita tentang pengalaman saya saat pertama kali ke sekolah, tapi saya akan bercerita dulu tentang sekolah dimana saya berbagi ilmu bersama mereka “ anak didikku “ yaitu di sekolah yang bernama SMP N 3 Wae Rii

SMP N 3 Wae Rii terletak di Desa Welong Kecamatan Wae Rii, Manggarai NTT. Desa yang cukup besar, karena letak geografisnya di daerah perbukitan, sepanjang jalan ku temui pohon tak terawatt, sawah, ladang, jurang dan jalanan yang curam. Rumah disini mayoritas terbuat dari kayu, bukan kayu jati tapi kayu yang mudah lapuk dengan atap seng (Zn). Disini belum terjamah listrik dan air. Setiap akan mandi mereka harus berjalan berkilo kilo untuk mendapatkan mata air, tetapi alhamdulilah sekarang musim penghujan jadi aliran sungai dimana-mana. Mereka bisa mencuci, mandi, dan minum air di sekitar sungai rumah mereka.

Berbicara tentang SMP N 3 Wae Rii adalah sekolah SATAP (Satu Atap) dengan SD I Welong, yang berdiri pada tahun ajaran baru 2012 dengan jumlah siswa kelas VII adalah 58 orang. Dengan segala keterbatasan kegiatan pembelajaran di SMP N 3 Wae Rii dilaksanakan seusai kegiatan pembelajaran di SD N 1 Welong, yaitu pada pukul 12.00-17.00 WITA. Dengan keterbatasan tersebut, kegiatan ekstrakulikuler sulit dijalankan, ruang kelas, perpustakaan dan UKS pun tidak ada. Semoga ada tindak lanjut yang jelas untuk pembangunan sekolah SMP N 3 Wae Rii. Amin.. J

Tibalah saya menginjakkan kaki di SMPN 3 Wae Ri’i, sambutan hangat dari bapak  ibu guru pun menghampiri tangan saya, di tengah ruang guru banyak anak-anak yang mengintip dan tersenyum dengan kedatangan saya, subhanallah mereka semua sangat ramah, di sepanjang jalan mereka menyapa “ Selamat siang Ibu !! “, hal yang tidak pernah aku dapatkan selama saya hidup dan sempat mengajar di jawa, hal ini membangkitkan semangatku untuk memberikan yang terbaik untuk mereka anak didikku.

Karena pada hari ini ternyata saya ada jam mengajar, sayapun masuk ke kelas VII A dengan berbekal laptop, alat tulis dan kamera digital. Saat saya tiba di pintu masuk, saya kaget karena siswa mendobrak meja secara serentak dan berkata dengan sangat lantang “ Selamat Siang Ibu !! “,  saya terbengong…  memang begitulah tradisi sebelum pembelajaran di mulai ”.

Waktu 15 menit pertama saya pakai untuk berkenalan dan memperkenalkan diri secara terbuka dengan para siswa, awalnya mereka semua pasif karena mungkin takut untuk mengeluarkan pertanyaan dan bahkan tidak ada inspirasi apa yang mau ditanyakan. Segera setelah itu saya mencoba bercerita tentang kisah seorang mahasiswa yang bekerja keras untuk membiayai kuliahnya dan memang terkesan agak hiperbola dengan sedikit motivasi.

Aku melihat ada harapan di raut wajah mereka. Sejenak saya bertanya tentang wisata alam di tempat tinggal mereka. Waw,, ada salah satu siswa yang antusias bercerita tentang Pulau Komodo dengan gaya bahasa yang menurut saya sedikit aneh… hehe… maklum setiap suku mempunyai gaya berbahasa Indonesia yang berbeda…  tetapi menurut saya perbedaan itulah yang menjadikan Indonesia itu Luar biasa..  Dari sini saya menyadari bahwa sebenarnya mereka mempunyai kemampuan untuk berdialektika, tetapi budaya belajar yang tertanam selama ini membuat mereka bertahan dengan budaya bisu. Duduk dan diam saat guru menerangkan, bergerak saat guru membacakan atau menuliskan materi.

Kemudian saya bertanya lagi “ apakah kalian sering melihat orang asing ?? kenapa mereka sering berlibur di Indonesia ?? tau nggak kenapa ?? karena mereka tidak mempunyai kekayaan alam seperti kita. Kita patut bangga karena hal ini, dan cobalah menjelajahi Indonesia karena ilmu yang kalian miliki, renungkanlah, dan marilah kita belajar dengan sungguh-sungguh. “

Saya menunggu beberapa menit saat mereka terdiam,,, dan setelah itu saya mulai pembelajaran Matematika, tak ku sangka begitu antusiasnya mereka, mereka aktif bertanya, mengerjakan dan maju ke depan kelas, walaupun masih ada beberapa anak yang masih ragu-ragu dan canggung untuk beraktivitas.

Hal yang bisa ku petik hari ini “ Mereka semua adalah orang Indonesia sama seperti kita, mereka pun punya harapan dan semangat yang besar sama seperti kita. Tetapi mereka sangat lugu dan lebih menghargai GURU mereka …

 

Ditulis di Ruteng,

17 Oktober 2012, 08.20 WITA

🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s